Minggu, 10 Maret 2013
My Sweet, My First Love
Alis mataku terangkat saat menatap layar handphone yang sedaritadi berkedip menggodaku. “Halo,” sapaku dengan sedikit menahan ragu. “Elen, mmm” terdengar suara berat diseberang sana. “Ya, ini aku. Ini siapa ya?” tidak ada satu katapun terdengar dari lawan bicaraku. Namun aku tetap menunggu sampai terdengar jawaban dari si penelpon misterius itu. Dua detik kemudian telpon itu mati. “Siapa sih? Iseng banget” ku lihat kembali nomor yang tertera di received call barusan. Namun, entah kenapa jantungku terasa berdegup saat mendengar suara itu. Tapi konyol, aku tak tahu siapa dan aku belum pernah mendengar suara itu.
♥♥
From : 081980xxxxxx
Hai cantik, semoga harimu menyenangkan :)
Perempuan mana yang tak gembira hatinya ketika menerima SMS seperti ini. Bibirku tersungging lebar begitu saja, senang tak terkira. Siapa lagi ini? Oh tidak, dia adalah orang yang kemarin menelponku. Mau apa dia sebenarnya?
To : 081980xxxxxx
Terima kasih. Kamu yang kemarin menelponku? Kalau boleh tau siapamya?
Tak terasa tanganku bermain dengan tombol handphone, membalas pesan singkat dari penelpon misterius itu. Tak perlu menunggu lama, pesanku langsung dibalas olehnya.
From : 081980xxxxxx
Maaf, aku tak dapat memberitahumu sekarang. Aku belum siap. Boleh kan aku berteman denganmu?
To : 081980xxxxxx
Oh tentu :) mengapa harus takut memberitahu siapa kamu? Bukannya dalam pertemanan kita harus saling mengenal?
From : 081980xxxxxx
Hahaha. Benar juga kamu. Tapi Elen, aku malu padamu. Aku takut jika kau tahu siapa aku, kau tak mau lagi membalas pesanku seperti ini.
To : 081980xxxxxx
Ada apa dengan kamu memangnya? Aku mau kok berteman sama siapa aja, asal gak bandel, gak jahat. Hehehehe
From : 081980xxxxxx
Nah itu dia mungkin, aku bandel. Aku gak sebaik kamu, aku juga jelek
To : 081980xxxxxx
Ah, sebandel dan sejelek apa? Mau aku bantu biar gak bandel lagi? :)
From : 081980xxxxxx
Kamu serius?? Oke aku bersedia hehe. Nanti kita telpon-telponan lagi ya
To : 081980xxxxxx
Iya. Tapi jangan matiin tiba-tiba ya?
From : 081980xxxxxx
Oke cantikk ;)
♥♥
Mulai kemarin sore hingga hari ini, hari ke 5 aku mengenalnya aku belum tahu siapa dia. Aku cuma tahu dirinya dari suara, dan kata-kata dalam pesan singkatnya. Namanya yang pada awalnya aku tak tahu pun, aku baru mengetahuinya setelah banyak komentar-komentar di Facebook, yang mengatakan seseorang itu menyukaiku. Ah, penelpon misterius itu bernama Erri rupanya.
Aku tahu sedikit tentang fisiknya dari Fia, teman dekatnya semasa SD. Fia bilang padaku dia itu gak ganteng, tapi manis. Malah jelek, kurus, kecil, terlebih suaranya yang cempreng kecewek-cewekan. Ah jelek deh! Tapi itu dulu, itu dia dimasa SD. Sekarang? Aku belum pernah mau memenuhi keinginannya untuk bertemu langsung padaku.
Jujur, ini baru pengalaman kedua ku berhubungan dengan laki-laki yang “katanya” menyukaiku. Aku sadar akan perasaan yang ia tujukan lewat perhatiannya, dan sikap-sikap lainnya yang untuk teman biasa itu tak wajar. Terang saja, aku belum begitu berani berhubungan lagi dengan laki-laki lain karena hubunganku dengan pacarku dulu itu tak indah. Malah terlalu menyiksaku, aku tak suka padanya namun aku juga tak bisa setega itu untuk menolak. Malah aku memaksa diriku bertemu dengannya, mengatakan aku sayang padanya, dan rupanya itu tak ujung membawa kesan yang baik untukku. Kali ini, aku takut jatuh lagi dalam kepura-puraan.
♥♥
Senin sore yang sangat mendung. Aku menghitung kembali, ini hari kesepuluh aku berkenalan dengan Erri. Kenapa aku begitu mengingatnya? Apa yang spesial? Seperti hari-hari sebelumnya, sore ini aku mendapat telpon dari Erri.
“Halooo”.
“Hai Elen, lagi ngapain? Ganggu gak kalo aku telpon”.
“Enggak, ada apa nih sore-sore nelpon?”.
“Nggak kok, mau ngobrol doang sama kamu”.
Durasi yang muncul dari layar handphone ku menunjukkan bahwa kami telah mengobrol selama 45 menit lewat 3 detik. Aku masih betah saja mengobrol dengannya. Mengobrol apapun yang kami suka, sampai telinga sudah panas pun sepertinya kami saling tak menghiraukan. Entah mengapa, mengobrol tak jelas dengannya aku merasa nyaman sekali, bahkan aku sering rindu mendengar suara Erri. Hingga pada suatu topik pembicaraan..
“Len, menurut kamu cinta itu apa sih?”.
“Ya, cinta itu cinta. Hahahaha”.
“Haha. Ah kamu, aku serius nih. Aku mau tau pendapat kamu”.
“Memangnya ada apa dengan cinta itu sendiri?”.
“Yaelah, ayolah Len aku mau tau.”.
“Iya, menurut aku cinta itu. Ketika aku merasa nyaman dengan seseorang, dan orang itu selalu ada untukku, berbagi kisah suka dan duka, mengerti aku, tidak menyakiti aku.”.
Deg. Apa-apaan ini? Kata-kata ku sendiri membuat aku bingung, kenapa aku bilang seperti itu? Aku jadi teringat dia, Erri.
“Wah, hebat ya kata-katanya. Haha kamu suka cowok yang kayak apa sih?”
“Aku gak nentuin cowoknya kayak apa, yang penting aku nyaman sama dia dan aku sayang. Kalo kamu?”
“Tipe aku kayak kamu Len. Kamu cantik, pinter, baik, lembut lagi. Jadi kamu selama ini nyaman gak sama aku?”
“Hah?”
“Aku, aku suka kamu Len. Kamu mau jadi pacar aku gak?”
“Ri.. Jangan ngomong kayak gitu deh”
“Kenapa? Aku memang bener-bener suka sama kamu”
“Tapi, aku gak bisa.. Aku, aku takut.. Takut gagal mencintai seseorang”
“Len, aku mohon kasih aku kesempatan. Aku mau buat kamu yakin sama aku. Selama apapun itu. Sampai kamu bener-bener mau nerima aku apa adanya”
“Tetep aja aku gak bisa. Maafin aku ya. Kita temenan aja dulu”
“Len..... Jadi kamu gak kasih aku kesempatan dulu?? Wah hancur hatiku, ditolak nih”
“Erri, aku gak bermaksud kayak gitu. Kasih aku waktu untuk yakinin diri aku sendiri, apa aku bener-bener sayang sama kamu”
“Yaudah, yang harus kamu tau aku itu sayang banget sama kamu.”
Aku menangisi jawaban ku barusan. Benar-benar menangis. Kenapa aku harus takut? Padahal aku yakin Erri bisa menjagaku, aku juga nyaman dengannya. Kenapa aku semunafik ini?
♥♥
Sepertinya, Erri melupakan kisah penolakan kemarin sore. Hari ini seperti hari-hari biasa dimana aku berbahagia bisa tetap berteman baik dengan Erri.
♥♥
Minggu ini, waktunya bersih-bersih. Sepertinya minggu ini akan menjadi salah satu minggu yang baik untukku, karna aku rasa aku mendapat kejutan dari Erri.
“Hai Eleeeennn!”
Aku mendongakkan kepala ku ke arah suara. Fia. Ya, itu Fia, sama siapa dia? Pikirku.
“Kamu lihat, aku bawa siapa?”
Aku hanya melihat kepada orang asing yang datang bersama Fia. Aku tetap mengerling, tidak mengenal lelaki itu.
“Kok kalian diem sih? Bengong segala! Mana kemesraan kalian ditelpon?”
Hah, telpon? Siapa? Erri kah ini?? Aku masih bengong.
“Hai Fia, kamu sama siapa?” sapaku kemudian
“Aku sama Erri nih.”
“Hai Elen” sapanya sedikit canggung.
“Eh kucing siapa nih, lucu banget. Nih Ri, lucu kan?”
Ku lihat reaksi Erri agak bergidik ngeri melihat kucingku, Chiko.
“Gak usah kasih aku lah kucingnya”
“Ihhh gak keren, ini kucingnya lucu banget tau”
Fia mendekatkan Chiko ke pundak Erri. Seketika itu ia langsung kabur meninggalkan Fia yang masih tertawa keras dengan reaksi Erri.
Heh, Erri takut kucing? Tampang macho gitu padahal -_- aku hanya diam dan tersenyum melihat pemandangan ini. Erri.... Manis juga.
“Eh Elen, sorry ya tadi. Hahaha. Kita cabut dulu, mau jogging. Ikut gak? Kan ada Erri. Cieee”
“Iya, gapapa. Erri kemana tadi? Aku gak ikut, lagi banyak kerjaan.”
“Ituu tuh si gelo, udah ngacir. Haha yaudah nyesel padahal gak ikut kita. Daah!”
“Daah”
Erri kok bisa takut sama kucing ya? Padahal kucing kan lucu.
♥♥
From : Erri
Elen, maaf. Aku alergi bulu kucing. Sekaligus aku trauma dicakarin kucing. Huhuhu tuhkan pertama kali ketemu aja bikin malu. Aku ngerasa aku lemah banget didepan kamu tadi
To : Erri
Ga perlu malu sama aku, aku paham kok
From : Erri
Jadi bagiku kucing adalah makhluk yang mengerikan
To : Erri
Haha kamu itu yah, cowok cool tapi takut sama kucing. Malu-maluin tau! Hahaha
From : Erri
Udah dong ngetawainnya u,u
Oyah, kamu cantik ya padahal masih pagi
To : Erri
Udah deh gombal segala. Biasa aja tau
From : Erri
Harusnya kamu bangga aku bilang kayak gitu. Cowok itu beruntung punya pacar kayak kamu loh Len.
To : Erri
Alhamdulillah kalo gitu, aku mau mandi ya riiiii
From : Erri
Oke ;)
♥♥
Mungkin waktu telah ku ulur lama untuk meyakinkan perasaanku. Ketika aku mulai yakin padanya, aku mulai takut apakah dia masih menyimpan perasaan yang sama untukku. Kali ini aku yang menunggu dia kembali menyatakan perasaannya untukku. Ya, meski dia sering iseng menggodaku itu bukan berarti dia masih menyukaiku kan? Entahlah, yang jelas aku menunggu dan kali ini aku bersedia untuk menerimanya. Aku yakin.....
Pikiranku tersadar saja saat mendapati telpon masuk. Erri. Saat aku memikirkan dia, dia langsung ada untukku. Seulas senyum mewakili perasaanku kali ini.
“Aku gak tau lagi gimana caranya memulai.”
“Maksudnya?”
“Mungkin bagimu sulit untuk menerima kembali seseorang untuk mengisi hidupmu”
“Hmmm”
Sungguh. Aku tidak mau pikiran negatifku benar-benar meng’iya’kan bahwa ia telah menyerah untukku. Aku mohon Tuhan, dengarlah.... Aku mencintainya. Persatukan kami kali ini.
“Apa kamu masih ragu? Terimalah perasaan ini. Ehem, kalo andainya aku ada deket kamu, bakal aku kasih jantung, hati, ah terlebih kasih sayangku untuk kamu biar kamu yakin sama cinta aku”
“Yeee stres! Itu mah kamu mati duluan bego sebelum aku nerima kamu. Hahaha masih sempet becandaan aja”
“Hah? Maksudnya apa nih? Kamu nerima aku ya?”
“Kalo kamu mau aku bilang iya, oke aku mau kok”
“Ah tentulahhh! Penantian panjangku tak berujung percuma. Kalo ada deket kamu, aku mau peluk. Haha gila seneng banget aku”
“Udahan Lebaynya. Tuh peluk guling lebih enak”
“Enakan peluk kamu dong. Hehehe”
“Idih. Haha sana mandi. Baaauu kamunya”
“Oke sayang!”
♥♥
Sweety. Panggilan sayang untuknya. Sepertinya itu terlalu kekanak-kanakan dan tidak sesuai untuk panggilan kepada laki-laki, meskipun laki-laki itu adalah pacar atau orang yang disayangi. Tapi aku lihat dia tidak keberatan saat aku menentukan nama panggilan untuknya. Bukan tak beralasan, aku memanggil dia dengan panggilan itu, karena dia orang yang manis, dan harapanku bahwa dia akan selalu membuat hari-hariku terasa lebih indah dan sangat manis.
Mungkin ini bukan untuk pertama kalinya aku jatuh cinta dan sebahagia ini, namun saat bersama Erri, aku sulit menemukan kekuranganku. Meskipun sifat kami berdua sangat bertolak belakang, tapi bagiku itulah yang dapat menyempurnakan perasaan kami.
♥♥
Untuk hari ini, aku baru saja genap sebulan menjalani hubungan dengan Erri. Saat aku merasa telah menemukan kebahagiaanku yang tergolong sempurna, aku menemukan masalah yang cukup rumit dan besar yang datang untuk menguji pertahanan hubungan kami ini. Pertama, kebohonganku dengan mantan pacarku terbongkar, sehingga ia menyerodokku dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku sendiri tak mau membahasnya. Kedua, Erri dikabarkan dekat dengan perempuan lain, yang jelas aku tidak merasakan ia berubah sikap denganku. Bahkan pada kabarnya, perempuan itu akan dijadikan Erri sebagai pacarnya. Bagaimana bisa itu terjadi? Erri kan masih pacaran denganku? Yang lucu dan anehnya, kenapa berita ini harus sampai ke telingaku melalui mantan pacarku? Ah, paling itu akal-akalan dia saja untuk memutuskan hubungan kami. Tidak, aku tidak boleh percaya dengannya. Aku... Tentu saja aku percaya pacarku, Erri
From : Alma
Kamu itu bego ya!? Jelas-jelas pacarmu itu Playboy. Dia itu cuma mau mainin kamu!
To : Alma
Urusan kamu apa sih? Yang jalanin hubungan itu aku, bukan kamu. Kamu gak usah ikut campur sama urusan aku.
From : Alma
Kamu itu coba dengerin aku. Aku cuma gak mau kamu disakitin cowok lain, apalagi sama orang yang sebrengsek itu! Kamu boleh nyakitin aku, tapi aku gak mau kamu disakitin. Dia kemarin bener-bener nembak Dera, cewek yang dia taksir dulu. Jelaslah Dera gak nerima Erri, dia tau kalo Erri itu masih pacaran sama kamu
Hatiku benar-benar sakit, aku tak tahu harus bagaimana. Saat ini pun aku sedang tidak berkomunikasi dengannya, baik melalui apapun. Aku hanya mampu mendengar perkataan hatiku saja. Secara refleks pun, air mata jatuh dari pelupuk mataku. Ini adalah hal yang tak bisa ku bayangkan sebelumnya. Sungguh.
Ku biarkan SMS itu sampai aku cukup tenang untuk membalasnya.
To : Alma
Sudahlah tidak usah memperkeruh keadaan. Terima kasih informasinya
From : Alma
Oke, kalau kamu gak percaya. Silahkan tanya Dera langsung. Ini nomor HP nya 0897xxxxxxx
Aku berkelut. Mau ku apakan nomor HP orang ini? Aku tak mengenalnya secara jelas. Mengapa harus aku tanyakan kejadiannya langsung jika harus mengiris hatiku? Tapi, bagaimana mungkin aku harus menghakimi keadaan yang tidak jelas seperti ini, aku cukup meyakinkan dari satu sumber dulu, baru nanti aku tanyakan masalah ini kepada Erri.
Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengirimkan pesan singkat kepada Dera.
To : 0897xxxxxxx
Hai, salam kenal. Aku Elen.
Aku boleh langsung bertanya sesuatu padamu?
Aku merasa deg-degan. Aku jadi tidak siap menanti balasan dari perempuan itu. Tiingg. Nada pesan masuk berbunyi nyaring. Ah, inikah balasan Dera? Pikirku mengecam. Aku paksa tanganku untuk meraih handphone ku, dan ku lirik sekilas nama pengirim yang tertera disitu. Sweety? Erri. Dia datang pada saat yang tepat kah untuk kali ini?
From : Sweety
Sayang, maaf baru ngabarin. Tadi aku main basket aja kea biasa, gapapa kan?
To : Sweety
Oke
From : Sweety
Hemm.. Kok jutek? Marah ya?
To : Sweety
Nggak tau aku marah apa nggak. Aku kalut banget ri -_-
From : Sweety
Kamu kenapa sayang? Ada masalah ya? Kasih tau aku biar kita kelarin bareng-bareng masalah ini. Itu biar hati kamu tenang.
Teeengg! Pernyataan yang sangat tepat sasaran, Erri! Pada saat yang bersamaan, satu SMS lain masuk. Dera. Apa maksudnya semua kebetulan ini??
From : 0897xxxxxxx
Hai Elen. Senang berkenalan denganmu. Pacarnya Erri ya? Wah mau tanya apa Elen?
Hah manis sekali perempuan ini menyambut SMS ku. Apa ini topeng saja?
To : 0897xxxxxxx
Maaf sebelumnya, aku hanya ingin mengklarifikasi berita tidak enak yang telah sampai ke telinga ku. Benarkah kemarin Erri.... Ah apa kemarin dia memang memintamu untuk menjadi pacarnya?
From : 0897xxxxxxx
Iya. Tapi Elen, aku tidak sampai menjawab pertanyaan dia. Kamu harus tau Elen, dia itu Playboy, jadi mana mau aku percaya padanya. Lagipula aku tau dia sudah punya pacar, yaitu perempuan secantik kamu Elen.
To : 0897xxxxxxx
Terima kasih atas informasinya
From : 0897xxxxxxx
Oke semoga langgeng ya.
Kenapa SMS terakhir itu malah membuatku menghakimi dia, bahwa dia sedang mentertawaiku atas kebodohan ku dalam mempercayai laki-laki macam Erri? Aku tak tahu. Aku hanya merasakan sesak di ulu hatiku saat membayangkannya. Oh ya, aku lupa. Aku belum membalas SMS Erri.
To : Sweety
Jadi kamu nggak mungkin nggak tau. Ini, masalah kamu, aku dan dia ri.
From : Sweety
Dia? Maksudnya dia siapa??
To : Sweety
Bagaimana mungkin kamu nggak tau. Dia, Dera. Kemarin kamu ngapain sama dia? Tell me, and give me the reason!
From : Sweety
Please Elen kamu jangan gampang percaya. Aku cuma bercanda sama dia, ya biasa lah. Dia juga dulu suka kali sama aku. Aku ngetes dia aja.
To : Sweety
Oke ri, segampang itu kamu mainin orang? Gimana aku? Pacar kamu! Kamu gak mikirin aku yah, gimana dampaknya aku dengerin omongan orang tentang kamu. Kamu Playboy lah, brengsek lah, dll. Terlebih sakitnya hati aku saat perlakuan pacar aku itu seakan-akan nganggep aku, pacarnya kea invisible gitu. Gak ada ri! -__-
From : Sweety
Maaf Elen, maaf. Aku janji untuk nggak ngulangin ini lagi, aku khilaf. Aku ngaku deh aku salah, tapi aku gak bermaksud mainin kamu dan dia. Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi aja Len. Aku bakal perbaiki semuanya
To : Sweety
Yaudah.
♥♥
Kejadian kemarin tak urung membuat perasaanku surut kepadanya. Malah
dalam hatiku, aku ingin menjaga dia, agar selalu ada untukku. Aku dan perasaanku, juga dia dan perasaannya padaku.
♥♥
Seminggu setelah kejadian itu. Hubungan dengan mantan pacarku, makin memburuk. Permasalahan yang tak perlu dibahas dan diperdebatkan semakin menjadi sensasi menjadi-jadi untuk menimbulkan perselisihan. Dan saat ini aku baru tau sifat buruk dari Alma, mantan pacarku itu.
Aku rasa, mengapa dia harus sibuk dengan urusan pribadiku? Dia kan punya urusan pribadinya sendiri. Dan satu lagi, permasalahan yang sering didebatkan adalah... Ia sering mengungkit tentang diskriminasi antara masa lalu kami dulu, dengan sikapku memperlakukan Erri. Juga keburukan-keburukan Erri.
Akhirnya ini membuat Erri tau, ia benar-benar tidak suka aku diperlakukan dengan kasar oleh Alma. Karna itu memang urusan kami, bukan dia.
“Aku pinjem HP kamu dulu deh ya Len”
“Buat apa?”
“Udah pinjem aja dulu”
To : Alma
Gak usah ngurusin masalah orang deh, punya urusan sendiri kan?!
Erri
From : Alma
Aku cuma pesen ya ke kamu, jangan nyakitin Elen lagi.
To : Alma
Peduli apa kamu? Dia pacar aku, dan aku yang bisa jagain dia.
From : Alma
Brengsek kamu! Kamu bilang jagain dia, tapi kamu baru aja nyakitin dia
To : Alma
None of your business. BASTARD!
Aku kebingungan dengan tingkah Erri. Sedari tadi ku lihat rahangnya mengeras dan seperti menahan marah.
“Ri, kamu pake SMS siapa? Kamu gak apa-apa kan?” aku memegang lengannya mencoba memberikan ketenangan. Ia hanya tersenyum membalas perkataanku.
“Nothing, sweet. I’m fine as you see.” Ia mengusap lembut dan mengecup puncak kepalaku. “Ah iya. Kita makan aja dulu. Kamu udah pucet tuh haha.”
“Rese kamu. Aku ngekhawatirin kamu tau.”
“Gak perlu lah, aku udah gede. Dan aku cowok” ia memeletkan lidahnya dan kutinju pelan lengannya yang sedari tadi ku pegang.
♥♥
Ku lirik jam tangan ditangan kiri ku, sudah 2 jam yang lalu SMS terakhir ku terima dari Erri. Ku raih handphone disaku celana ku, ku tekan beberapa digit nomor telpon Erri. Telponnya tersambung, kenapa dia gak angkat telponku? Apa dia sedang marah? Tumben. SMS juga gak dibales. Apa emang lagi sibuk?
Tiiinggg. Nada dering tanda pesan masuk ini seakan-akan memberikan jawaban padaku. Namun yang ku dapati disitu bukan pesan dari Erri, melainkan Dera. Mau apa lagi dia?? Aku menghela nafas dan membuka pesan darinya.
From : Dera
Elen. Erri dan Alma lagi duel ditaman bambu!
Mataku terbelalak membacanya. Segera ku raih tas tanganku, dan ku susul mereka sampai ke Taman Bambu. Apaan ini? Ku lihat Alma akan meninju wajah orang yang aku sayangi.
“Erri!”
Kedua orang itu menghentikan duelnya sesaat ketika aku datang. Aku berlari menghampiri Erri dengan wajah yang merah padam karena emosi itu.
“Erri..........” ku peluk erat tubuhnya yang basah berkeringat itu, lalu menangis dipelukannya.
“Kamu ngapain disini? Ini urusan aku sama dia.” Yang dibicarakan hanya diam dan menatap kami tak suka. “Cih!” desisnya
“Ri aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Udahan ya berantemnya. Kita bisa kelarin masalah ini dengan kepala dingin. Aku yakin ada solusinya.” Aku mengangkat wajahku. “Kenapa kalian berdua berantem?”
“Asal kamu tau Len, mantan kamu ini songong banget. Seenak udelnya marahin kamu dan ngurusin hubungan kita. Aku yang pacarnya kamu aja gak pernah marahin kamu. Kasar banget dia. Tampang alim padahal! Apa urusannya? Jadi harus ku beri pelajaran biar dia tau sopan santun.”
“Kamu itu yang brengsek! Pengecut! What the hell loser! Bisanya mainin perasaan cewek. Dikirain kamu lahir dari pertunasan batang pisang apa? Potong aja punyamu kalo emang gak bisa ngertiin dan jagain cewek.”
“Hah? Sok tau kamu! Kenapa kamu begitu peduli sama pacarku? Kalian itu udah lama putus.” Aku melepaskan pelukanku. “Biar aku atasi ini, minggir Len”
“Stop! Udahlah. Kalian ini ngomongin yang gak penting aja. Aku rasa masalah ini cukup jelas. Alma, aku minta sama kamu gak usah hubungin aku lagi. Ini semua urusanku, aku dan Erri yang menjalani hubungan ini. Kami, terutama aku yang akan tanggung resikonya. Aku benci banget sama kamu! Awas aja kalo kamu masih ganggu aku dan Erri!” ku tarik tangan Erri meninggalkan tempat itu.
Alma? Dia hanya mengerang kuat sepeninggal kami berdua dari tempat itu.
“Sial! Cinta udah ngebutain Elen. Sungguh Tuhan, aku gak mau dia disakiti oleh siapapun, terutama ERRI.”
♥♥
Kali ini aku boleh lega, seminggu lagi hubunganku dengan Erri akan memasuki bulan ke dua. Aku rasa untuk saat ini tidak akan ada badai cobaan lagi mengganggu hubungan kami berdua. Sore ini aku akan pergi kerumah teman sekolahku, Intan. Hari ini ia akan sangat bergembira dihari ulang tahunnya itu. Ah rencananya aku ingin sekali mengajak Erri untuk pergi bersama-sama kerumah Intan. Tapi apa boleh buat, ia sudah membuat janji dengan teman-temannya untuk bermain bola basket.
To : Sweety
Kamu bener-bener udah janji sama yang lain?
From : Sweety
Iya sayang. Maaf ya, lain kali kalo mau minta ditemenin kamu konfirmasi ke aku dulu dong hehe.
To : Sweety
Alah sok sibuk kamu. Haha. Well sweety aku berangkat dulu ya, love you
From : Sweety
Hati-hati dijalan sayang. Love you too :*
♥♥
Perasaan aku kok jadi aneh gini ya? Pertanyaan batinku tak dapat membuatku tenang. Aku juga sibuk menepis berbagai pikiran aneh yang berkecamuk dalam otak ku. Aku mulai terpikir kata-kata Alma, Erri itu brengsek, Playboy. Ah! Apa nanti dia akan setega itu mempermainkan aku lagi? Takkan mudah bagi seorang playboy untuk benar-benar mencintai seseorang. Tapi..... Erri pernah bilang padaku bahwa ia rela meninggalkan apapun yang telah ku larang demi kebaikannya itu. Itu demi aku. Aku yakin dia sangat mencintaiku. Pasti. Aku yakin Erri telah berubah. Aku juga benar-benar menyayanginya. Sekalipun dia bukan tipe lelaki yang baik, aku tau dia akan berubah. Itu karna aku ingin merubahnya menjadi lebih baik, dan aku tau ia akan memenuhinya karna aku tau. Dia juga sangat menyayangi aku.
“Kok ngelamun? Nyanyi yuk!” Intan menyadarkan lamunanku dan segera menarik tanganku sebelum aku melanjutkan konflik pikiran dan batinku. Intan lalu melanjutkan “Oh iya abis ini kita makan, lalu acara bebas deh! Hehe”
“Iya tan. Anggep aja acara bebasnya dunia ini milik kita ya hahaha,” Intan nyengir mendengar kata-kata ku barusan.
Gak ada masalah, selama kita membuat dunia ini juga enjoy dan nyaman buat kita. Aku melupakan resahku.
♥♥
Malam minggu. Bukan acara yang spesial buat aku dan pacarku Erri. Aku biasa cuma SMS-an, dan telponan sampai semalam suntuk dengan Manusia Gila Telpon ini. Yah, bukan sekali saja, bisa sampai berkali-kali sampai telinga budek juga yang penting melepas kangen. Kita memang mengurangi frekuensi untuk bertemu, memang sengaja. Tapi untuk urusan telpon-menelpon, Erri paling gak bisa.
“Halo sweety” sapaku memulai
“Halo...”
“Agak aneh nih malem ini”
“Enggak aneh kali yang. Eh tadi itu aku ketemu cewek cantik loh.”
“Oh ya, terus? Diajakin kenalan gak?”
“Nggak, kan aku udah punya kamu”
“Jadi, gimana kalo kamu belom punya aku?”
“Gimana ya? Gatau juga tuh”
“Uhm gitu”
“Alah gitu aja ngambek”
“Gak ngambek kok”
“Itu?”
“Sok tau deh. Cantikan mana aku sama cewek itu?”
“Cantik kamu lah”
“Ah maksa deh ngomongnya”
“Maksa apa sih. Serius dari hati aku yang paliiing dalem”
“Trus tadi kenapa ngomongin cewek cantik? Kegatelan sih”
“Gak gitu kan gak normal yang”
Seketika hatiku menciut. Seenaknya Erri bicara kepadaku seperti itu.
“Tapi kamu tau kan kamu ngomongin itu sama siapa?”
“Yang, gak gitu maksudnya.”
“Udahan deh ri. Aku capek dengerin becandaan kamu yang kayak gitu”
“Kan aku udah jelasin maksudnya gak gitu”
“Iya. Bukan sekali ini kamu becandaan masalah cewek. Aku ini cewek ri, aku gak bisa dengerin pacar aku kayak gitu depan aku.”
“Kamu kok jadi marah gitu sih sama aku?”
“Napa? Kamu gak suka? Ya jelaslah aku marah. Wajar. Aku cemburu juga wajar, itu karna aku sayang kamu. Kalo gak ngapain juga capek-capek marah gitu.”
“Abisnya kamu itu ngambekan. Coba gak usah ngambek, udah tau aku orangnya suka becandaan.”
“Egois banget kamu itu!”
“Kamu tuh yang egois. Mentingin perasaan kamu doang hah.”
“Yaudah kamu urusin aja cewek itu! Gak usah aku!”
“Mending aku gak ngurusin dua-duanya”
“Oke kalo kamu maunya gitu. Kita putus aja”
“TERSERAH KAMU! OKE KALO MAUNYA GITU”
Tuut.. Tutt.. Tuut.. Sambungan telpon terputus. Begitu juga hubungan kami. Putus. Segitu kejamnya Erri? Pembelaan aku terhadapnya didepan Alma terasa sia-sia saja. Keadaan seakan-akan membenarkan kecaman Alma terhadapku. Aku merasa pipiku basah. Basah oleh air mata. Aku merasakan benci yang begitu besar terhadap seseorang yang pernah menghujami hariku dengan cinta itu. Aku marah. Aku merasa menjadi wanita yang tidak dihargai perasaannya oleh seorang laki-laki yang telah aku percayai setulus-tulusnya, ialah yang akan menjadi yang terbaik dalam hidupku. Aku kecewa. Mengapa hari ini terasa bagai kutukan untukku? Yang dibilang Alma benar. Dia memang lelaki yang suka mempermainkan perasaan perempuan.
Tuhan telah mentakdirkan aku jatuh cinta dengan Erri. Tetapi mengapa Tuhan pula yang telah mentakdirkan kami untuk terputus ditengah jalan yang berkerikil ini? Apa memang.. Bukan jodohku dengannya? Tapi entah, dibalik semua itu perasaan cinta masih mengakar kuat didalam hatiku.
♥♥
Sebulan setelah aku memutuskan hubungan kami, hanya sekali aku mendapat kabar tentang dia. Setidaknya aku tau dia baik-baik saja. Pada saat itu pula, dia meminta maaf kepadaku, dan memohon agar aku kembali kepadanya. Namun entah mengapa aku terlalu takut untuk disakiti kembali. Dan aku pun tak dapat menerima Erri kembali.
Hingga, meski aku ingin pun aku tak dapat menerima Erri kembali padaku dengan semudah itu. Kecuali jika aku tau dia sudah dapat merubah kebiasaan buruknya secara total, meski hanya kemungkinan kecil.
Aku tetap menjalani konsekuensi ku, agar aku tidak jatuh kedalam kesalahan yang sama. Meskipun Erri telah menjamin semua ketakutanku dengan perkataannya yang manis. Tapi aku cukup belajar dari saat pertama aku dengannya, ia juga menjanjikan saat-saat terindah dan kesiapannya untuk menjagaku, begitu juga dengan perasaanku.
♥♥
Melepaskan hanya butuh waktu sedetik saja, namun untuk melupakan aku tak jamin dengan cara yang semudah dan sepraktis apapun dilakukan. Jatuh cinta dengan lelaki manapun juga aku masih menganggap lelaki itu sama brengseknya, dan tidak ada yang bisa menyamai Erri.
Prinsipku masih sama saja, sampai aku mengenal Rian dan hingga aku berpacaran dengannya. Lagi-lagi aku memaksa diriku untuk menerima seseorang dalam hidupku, hidup dalam kepura-puraan, dan sebagainya. Namun kali ini tujuanku lain, aku ingin mencoba menyelami kehidupan dengan lelaki lain meski itu bukan Erri. Siapa tau, lelaki itu bisa menjadi batu loncatanku untuk melupakan seseorang seperti Erri itu.
Nihil. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain memutuskan hubungan kami yang baru seumur jagung. Singkat saja, hanya 6 hari kami berpacaran. Tidak instan memang, dan tentu saja sulit melakukan hal sekonyol ini.
Berkali-kali ku coba untuk melarikan diri dari perasaan cinta yang telah terlanjur mengukir indahnya didalam hati ini, berkali-kali itu juga aku tak mendapatkan jawaban yang ku inginkan untuk melupakannya.
Hingga saat ku dengar suara itu kembali, aku.. aku kenal suara itu. Oh tuhan, diakah cinta pertamaku?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar