Rabu, 13 Maret 2013
Please Take Me, I don't Know How to Go
Daun-daun mulai berjatuhan saat angin menghembus dengan pelan, semilir lantunan ritme-ritme indah yang dimainkan oleh desiran angin dengan merdunya sehingga menggoyahkan dedaunan untuk ikut menari bersamanya. Begitulah kegoyahan hati yang dirasakan oleh Maura, gadis berambut panjang, berparas cantik, dan bertubuh tinggi ini. Dia merasakan kepedihan yang amat dalam, setelah begitu banyak rintangan dan cobaan menerpa dirinya saat ia mulai beranjak dewasa dan mengenal tentang dunia. Ia tak bisa begitu tabah, mendengar kepergian kekasihnya, yang pergi dan meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Bukan hanya itu, terpaan demi terpaan cobaan hidup belum selesai berhenti pada hal itu saja. Belum lama ia harus mengikhlaskan kepergian kekasihnya, lalu kedua orang tuanya bercerai. Ia sudah tak tahu bagaimana lagi harus menghadapi dan menjalani hari-harinya. Ketika semua orang yang dicintainya tak berada disampingnya.
Ia berdiri memandanglurus ke depan dengan tatapan menerawang. Sesekali matanya yang indah itu berkedip dan meneteskan air mata. Air mata yang ia jatuhkan bagaikan untaian permata yang dilinangkan ke tanah semaunya. Ia menghela nafas panjang, ia berpikir bahwa ia tidak pernah menangis seperti ini sebelumnya. Sejak saat semua itu terjadi, ia hanya memilih untuk menyendiri, ia pun mendadak menjadi pendiam dan pemurung. Ia membisu seribu kata, menyimpan segala perasaan yang ada dibenak nya yang sudah tak karuan. Meskipun ada yang selalu bertanya sepintas mengenai keadaannya ataupun masalah serius yang dihadapinya sehingga ia mengalami depresi seperti ini, karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari nya, maka tidak ada yang mencoba mendekati ataupun mencoba menenangkan dirinya. Orang-orang itu takut, Maura yang selama ini mereka kenal dengan kecantikan dan keangkuhannya itu menjadi gila akibat masalah rumit yang dihadapinya itu,
Gadis cantik yang selalu menampakkan wajah cerah nya yang merah merona itu kini hanya menampakkan wajah yang pucat dan pasi. Ia belum makan apa-apa sejak ia pergi dari rumahnya, karena kesal dengan sikap orang tuanya yang hanya memikirkan ego-nya sendiri ketimbang memikirkan ia dan masa depannya. Ia pun kehilangan arah, kemana dan harus bagaimana hidupnya setelah ini.
Maura adalah anak pertama dan terakhir dikeluarganya. Dari ia masih kanak-kanak, keluarganya tidak terlalu harmonis. Ayahnya, sering bekerja keluar kota untuk mengurusi saham-saham kepemilikan kakeknya yang sudah diwarisi untuk ayahnya kelola. Ibunya adalah pegawai kantoran yang dari pagi sampai menjelang maghrib tiba baru bisa betemu dengan anak semata wayangnya itu. Percekcokan pun selalu terjadi karena kurangnya komunikasi diantara kedua orang tua Maura. Sedangkan, di masa-masa remajanya inilah ia sangat membutuhkan kasih sayang dan dukungan dari kedua orang tuanya. Namun sebaliknya yang terjadi, terlebih ayahnya jarang pulang kerumah untuk menemui dan mengkontrol perkembangan buah hatinya berikut masalah rumah tangganya tersebut. Seakan acuh tak acuh dengan keadaan seperti ini, mereka sampai hati memutuskan kata ‘cerai’ didepan anak mereka tanpa mengimbangi apa yang akan tejadi dengan Maura jika mereka benar-benar bercerai pada saat itu. Hantaman demi hantaman benda-benda keramik dan perabotan mewah lainnya menjadi tidak berarti dimata Bapak dan Ibu Handoko, kedua orang tua Maura. Mereka hanya asyik menyalah-nyalahkan diantara keduanya dan tanpa ada yang mau mengalah. Keduanya merasa dirinya yang paling benar dalam percekcokan tersebut.
Disisi lain, mereka tidak tahu bahwa putri semata wayang mereka hanya bisa menangis meraung-raung tanpa bisa melakukan apapun dengan hal-hal buruk yang telah dilakukan oleh kedua orangtuanya itu. Tangisan Maura semakin kencang dan sampai tak terkendali bahwa dirinya telah jatuh pingsan.
Seketika ia siuman, dia sudah didampingi seorang wanita setengah baya berkaca mata. Parasnya masih sangat cantik. Matanya bulat, dan hidungnya mancung. Ia menunjukkan ekspresi raut wajah yang mencemaskan orang yang dihadapinya itu. Namun wajahnya kembali bisa tersenyum saat melihat Maura siuman dari pingsannya.
“Maura, kamu gak apa-apa sayang?” tanya mama nya khawatir.
“Gak kok ma. Maura gak apa-apa” jawab Maura datar
“Maura, maafin papa sama mama ya? Papa sama mama gak bermaksud kayak tadi kok, Cuma papa nya kali yang lagi capek. Mama juga lagi banyak masalah dikantor. Jadinya kayak gitu deh?” jelas ibunya
“Tapi papa sama mama tetep pengen cerai ya?!” tanya Maura ketus
“Kamu gak boleh ngomong kayak gitu, sayang!” cela mama nya
“kenapa gak boleh? Sedangkan papa sama mama berantem sampe mecahin perabot dirumah aja boleh? Gitu ya? Kenapa sih papa sama mama gak pernah mikir perasaan Maura? Maura itu butuh perhatian dari papa, dari mama! Tapi Maura gak pernah dapetin hal seperti itu! Tau gak ma? Maura ngiri sama temen-temen Maura, mereka orang tuanya rukun dan harmonis. Nah kita? Kucing sama Anjing pun kalah berantemnya!” jelas Maura panjang lebar
“Hh, sudahlah Maura. Untuk makan dan memenuhi fasilitasmu saja sudah cukup! Tanpa seorang ayah seperti dia pun tak apa-apa! Mama masih bisa hidup sendiri dengan kamu tanpa dia!” bentak mamanya mengakhiri percakapan.
Maura terpaku dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh wanita yang telah melahirkan ia kedunia dan membesarkannya dengan kasih sayang tersebut. Mama nya pergi meninggalkan dia dikamarnya. Ia melanjutkan tangisannya yang telah ia hentikan selama ia pingsan. Namun tangisan nya tak berarti apa-apa tidak ada yang tahu, tidak ada yang peduli akan tangisan nya itu. Sampai akhirnya ia pun tertidur pulas. Dalam tidurnya ia hanya berharap semuanya akan kembali normal besok pagi.
Jam menunjukkan pukul 06.30 namun Maura masih terbaring di kamar tidurnya. Ia membuka matanya dengan malas, lalu menarik selimut tebalnya agar ia bisa terlelap kembali. Namun handphone nya berdering berulang-ulang. Ia mendengus kesal dengan ocehan ponsel mungil miliknya. Ia mengeluarkan tangannya dari selimut dan meraba-raba ke sekitar bantalnya, akhirnya ia menemukan barang yang se daritadi tak berhenti memainkan alunan nada dering yang menandakan panggilan masuk ke handphone nya.
“Halo” sapa Maura
“Halo, Maura. Apa kamu sudah bangun?” kata seseorang dari ujung telepon
“Ya, baru saja aku bangun. Kalau saja tidak ada telepon darimu, aku masih bisa tertidur pulas mengurangi kepenatanku” omel Maura kepada orang tersebut.
“Maaf sayang, aku tidak bermaksud mengganggu minggu pagimu”
“Oh, aku kira siapa yang menelpon. Ternyata kamu”
“Iya, maafin aku ya?”
“Gak apa-apa kok. Dengerin suara kamu aja udah sedikit mengurangi kepenatanku. Selain tidur untuk pagi cerah ini” ujar Maura lembut dengan seuntas senyuman kecil dari bibirnya yang sedaritadi manyun.
“Oh, ya udah kamu mandi aja dulu. Aku juga mau sarapan. Hehe, nanti kita sambung lewat SMS aja ya. Bye sayang”
“Bye”
Maura menutup telepon dengan pacarnya, Raffi. Hubungan mereka baru saja berjalan selama 1 tahun 2 bulan. Raffi adalah pacar yang sangat baik bagi Maura. Dia selalu memberikan perhatian kepada pacarnya, dan mengerti dengan keadaan keluarga Maura. Sehingga Maura merasa aman dan nyaman saat bersama-sama dengan Raffi. Banyak yang mengiri dengan hubungan mereka berdua. Karena mereka termasuk dalam best couple di sekolahnya.
Sabtu sore, seperti Sabtu-sabtu biasanya. Maura dan Raffi pergi hangout ke mall yang sering mereka kunjungisekedar untuk melepaskan penat selama 6 hari melakukan aktivitas sekolah secara rutin. Mereka menjelajahi satu-satu tempat baju-baju, sepatu, aksesoris, dan boneka di mall tersebut. Di toko boneka, Raffi membelikan sebuah boneka Teddy Bear kesukaan Maura. Raffi sangat senang melihat senyum Maura ketika melihat boneka kesukaan nya itu diberikan untuknya.
“Kamu suka boneka nya?” tanya Raffi
“Aku suka banget. Makasih ya sayang” jawab Maura dengan senyum yang mengembang dibibir nya.
“Sama-sama. Aku pengen buat kamu bahagia selamanya bersamaku. Hahaha”
“Yee kamu tuh ya. Aku berharap gitu juga deh. Hehe”
“Haha. Kita pulang yuk, udah mau maghrib”
“Ya udah, ayok deh”
Diperjalanan pulang, mereka tengah asyik bercanda didalam mobil Xenia silver milik Raffi. Namun saat menyetir mobilnya, Raffi tidak memperhatikan bahwa ada seseorang kakek yang melintas dijalan. Kakek itu tidak melihat mobil Raffi yang akan melewati jalan itu juga. Saat Raffi tersadar ia hampir menabrak seorang kakek-kakek, dia sempat membunyikan klakson kepada kakek tersebut. Tapi karena panik dan kaget, Raffi memutarkan setir ke arah kanan dan menghantam badan jalan. Akibatnya mobil Xenia yang dia kendarai bersama pacarnya menabrak trotoar dan Raffi yang mengendarai mobil tersebut tewas seketika karena pertolongan yang terlambat. Sedangkan Maura, hanya mengalami luka ringan akibat kecelakaan tersebut.
Sadar akan kepergian kekasih yang dicintai dia untuk selama-lamanya, dia tidak bisa menahan air mata yang langsung tumpah membasahi pipinya. Dia benar-benar sedih kalau itu adalah pertemuan terakhirnya, dan boneka pemberian Raffi itu adalah pemberian terakhir untuk nya. Terlebih, dimana orang yang selalu ada untuk dia, selalu mngerti keadaan dia dan sangat-sangat perhatian kepadanya melebihi kedua orang tuanya itu harus pergi meninggalkan dia dan tidak pernah kembali lagi.
Maura berjalan masuk kedalam rumahnya dengan langkah yang terseok-seok. Dia harus siap mengikhlaskan kepergian kekasihnya itu, menghadapi kenyataan pahit dihidupnya sendirian. Dengan orang tua yang sama sekali tidak mementingkan dirinya juga masa depannya yang hanya diandalkan dengan uang saja. Namun, beberapa bulan terakhir ini saham penjualan ayahnya menurun drastis sehingga saham penjualan ayahnya terancam bangkrut. Ketika papa nya kembali kerumah untuk menemui mama nya, namun petengkaranlah yang kembali terjadi. Hari-hari yang berlalu hanya seperti itu saja tanpa keharmonisan. Sampai saatnya tiba, mama Maura mengajukan keputusan cerai dengan papa nya.
Maura sudah tak tahan lagi dengan suasana yang terjadi dirumahnya.Jiwanya benar-benar kacau. Pikiran nya terbang kemana-mana. Ia tidak punya pegangan dan pertolongan didalam gelap pikiran nya. Ia hanya berjalan mengikuti kemana arah langkah kaki nya. Ia tidak peduli orang disekitarnya, kenal atau tidak. Sampai dia memutuskan untuk kembali kerumah. Dan dirumah itulah ia memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan menelan 5 butir obat pusing sekaligus. Akhirnya, dia menghembuskan nafas terakhirnya karna overdosis.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar